Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Petani Cabe Lereng Merapi Terserang Patek


Lajur Merapi-Magelang-(7 Maret 2012)-Cuaca ekstreme (hujan disertai angin kencang) yang terjadi beberapa minggu yang lalu mengakibatkan banyak tanaman sayuran di lereng merapi gagal panen, Sengi, Dukun, Magelang - Jawa Tengah.


Tanaman cabe Bangkok (gurga)yang terserang penyakit patek, (foto wancux) sehinga cabenya di panen lebih awal. Lokasi tanaman di Dusun Candi Duwur, Sengi, Dukun, Magelang, Rabu 7 Maret 2012

Pertanian yang gagal panen diantarannya tanaman cabe kriting dan cabe Bangkok (gurga). Banyak petani yang memanen cabe lebih awal dengan harga yang lebih murah. Dengan kondisi ini banyak petani yang mengeluh. Penyakit patek (penyakit jamur) ini sering  terjadi dimusim hujan dan untuk pestisida dan insektisida belum ada untuk mengobati penyakit jamur ini.  Penyakit ini sering terjadi akibat kondisi alam yang berubah-ubah, hujan, panas, dan berkabut. 

Etie Salah satu warga yang tanaman cabenya terserang penyakit patek. (Foto: Wancux-LJ)

“Petani lebih sering menanggulangi patek dengan menggunakan cat tembok dengan disemprotkan agar perkembangan patek sedikit terhambat  dan harus sesering mungkin uutuk mengobatinya. Jika harus beli pestisida harganya sangat mahal sehingga banyak petani yang merasa rugi” Tutur Etie petani cabe warga Sengi Kecamatan Dukun.

Cabe yang terserang penyakit patek bentuknya mengkerut, kering dan membusuk, Sengi, Dukun, Magelang Rabu 7 Maret 2012. (Foto: Wancux-LJ) penyakit ini cepat menyebar ke buah cabe yang lain. Cabe yang sudah terserang penyakit patek harus di petik dan dibuang sehingga tidak menular ke cabe yang lain.

Dari serangan penyakit patek sangat mempangaruhi harga sayuran di pasar Suko, Desa Sewukan Kecamatan Dukun. Harga cabe merah kriting Rp 12.000 / kg, cabe hijau kriting Rp 6000 / kg. Dan harga cabe Bangkok merah Rp 25.000 /kg, sedangkan harga cabe Bangkok hijau Rp 7000 /kg harga per tgl 6-3-2012. Karena harga setiap hari berubah-ubah.
“Banyak petani yang memetik hasil panen lebih awal sehingga harganya lebih murah". tutur Yuli pedagang sayuran dari Desa Gemer Ngargomulyo Kecamatan Dukun, Magelang - Jawa Tengah.

Kiriman: WCX-LJ

free counters

Rabu, 15 Februari 2012

Aktivitas Merapi Meningkat, Warga Tetap Tenang


Lajur Merapi (Rabu 15 Februari 2012)
"Udara di sini memang terasa panas, tapi warga tetap tenang meskipun kemarin mendapat berita aktivitas Merapi meningkat dari media massa, kami tetap berpedoman bahwa status Merapi masih Aktif Normal" kata Rudi warga Cangkringan Sleman Yogyakarta..

Bayu Sapta Nugraha, warga Kecamatan Dukun, Magelang juga mengatakan "suhu udara sisi barat Merapi hari ini dan hari sebelumnya juga terasa panas".

Warga sisi selatan Merapi, Turi, Cangkringan, dan Gentan juga mengatakan hal yang sama, udara pagi (15/02/2012)
terasa gerah meskipun wilayah Merapi terlihat diselimuti mendung, Joko dari Gentan, Tofik dari Turi, dan Riska dari Cangkringan Sleman memberikan keterangannya.

Petugas pengamatan Gunung Merapi Jrakah, Selo, Boyolali, Tri Mujianto (14/02/2012) mengatakan kepada wartawan,
"Memang terjadi peningkatan aktivitas dibanding evaluasi mingguan pada satu pekan sebelumnya,
terutama pada gempa multiphase. Namun statusnya masih tetap Aktif Normal"

Tri memaparkan, dari tanggal 5 hingga 11 Februari 2012, tercatat 5 kali guguran, 125 kali gempa Multiphase (MP),
3 kali gempa tektonik, dan 11 kali gempa vulkanik dangkal. Sedangkan pada 29 Januari hingga 4 Februari 2012,
terjadi 5 kali guguran, 12 kali gempa tektonik, 18 kali gempa MP, dan satu kali gempa vulkanik dangkal.
Sedangkan kegempaan tanggal 12-14 Februari, masih dalam pendataan. Peningkatan aktivitas ini menunjukkan terjadi pergerakan dari dapur magma di dalam kawah,  yang perlu ditegaskan saat ini bahwa status Merapi masih tetap aktif normal dan belum ada perubahan apa pun.(VEY-LJ/ Editor: EM-LJ Aspirasi)

Selasa, 14 Februari 2012

Fosil Binatang Purba Ditemukan Di Kebumen Jawa Tengah


Lajur Merapi-Kebumen-(Selasa 14 Februari 2012)-Beberapa Fosil yang diduga berasal dari binatang purba ditemukan di Kebumen Jawa Tengah minggu legi 12 februari 2012.

Sebuah tim kecil yang diketuai oleh Ravie Ananda (pengamat sejarah Nusantara), beranggotakan Beni Purnomo, Eko, dan Sudarsin melakukan penyusuran dan menemukan beberapa fosil pada hari minggu legi 12 Februari 2012. Lokasi penemuan berada di desa Kedung Gong kecamatan Sadang, 15 Km arah utara Laboratorium Geologi LIPI Karangsambung Kebumen, atau 35 Km dari Kota Kebumen. Menurut Ravie Ananda, fosil-fosil tersebut ditemukan di tepian kali kecil dengan kondisi tanah merah remah bercampur lumpur biru dan dijalur batuan Serpentint. 


Fosil yang ditemukan berupa batuan berbentuk tulang mirip rahang dengan berat lebih dari 50 kg, kemudian batuan berbentuk mirip rangkaian tulang ikan. 

Ravie Ananda mengatakan "Dugaan sementara fosil ini merupakan fosil ikan raksasa purba dengan logika bahwa wilayah Sadang dan Karangsambung Kebumen dahulu adalah lautan dalam yang muncul ke atas ketika terjadi tumbukan lempeng benua dan lempeng samudra yang terjadi pada jaman pra tersier". Ravie melanjutkan "Kondisi tanah yang liat dan lumpur biru merupakan pembentuk batuan serpentint yang hanya bisa terjadi di laut menengah dan dalam, hal ini secara teori mendukung terjadinya proses alam perubahan dari jasad hidup menjadi fosil yang mengeras".

Spekulasi selanjutnya dari Ravie, "Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan fosil tersebut berasal dari binatang purba golongan dinosaurus yang berada di daerah tersebut setelah daerah Kebumen menjadi daratan".

"Bagaimanapun penemuan ini semoga bisa menjadi sumbangan data bagi sejarah peradaban tua di Kebumen", Ravie berharap .

"Beberapa bulan sebelumnya ditemukan juga fosil gigi gajah di daerah Bedogol Petanahan Kebumen yang sama dengan gigi gajah yang telah ditemukan di Kalimantan, secara pola telah diketahui berdasar penemuan di situs Patiayam bahwa fosil gigi gajah dekat dengan grabah yang menandakan telah adanya aktifitas manusia pada masa itu", Ravie menerangkan.

Fosil-fosil binatang purba ini sementara disimpan di rumah Ravie Ananda jalan garuda 13 Kebumen.
Untuk temuan fosil gigi gajah, saat ini sedang dilakukan penelitian oleh tim arkeologi bandung yang beranggotakan 5 orang.(Vey-LJ/Editor: EM-LJ Aspirasi)




free counters

Oknum Pencuri Menjarah Sejarah


Lajur Merapi-Sleman-(Selasa 14 Februari 2012)-Oknum-oknum pencuri telah menjarah arca-arca Candi Gebang di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta pada tahun 1940, kemudian pada November 1989, kepala arca Nandiswara juga dicuri, hingga saat ini kasus pencurian tersebut tidak terungkap.

Saat pertama kali ditemukan pada tahun 1936, Candi Gebang dalam kondisi runtuh total. Endapan lahar gunung Merapi juga nampak menimbun bangunan tersebut. Beberapa wilayah di Yogyakarta menunjukkan bahwa banyak bangunan candi yang tertimbun material vulkanik gunung Merapi, diantaranya Candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Kadisoka, serta Candi Morangan.

Masa pendirian Candi Gebang tidak diketahui secara pasti, tetapi dilihat dari ciri arsitekturnya diperkirakan Candi Gebang dibangun sekitar tahun 730 - 800 Masehi. Ciri arsitektur tersebut nampak dari sebuah arca wajah pada bagian atap candi yang seolah-olah melongok dari sebuah jendela. Ciri semacam ini dinamakan Kudu, relief Kudu juga dijumpai di candi Bima pada komplek percandian Dieng.

Candi Gebang selesai dipugar pada tahun 1940, terlihat bahwa sejumlah arca pengisi relung candi pada bagian bangunan sisi utara dan selatan lenyap dicuri. Hanya di sisi barat saja yang masih berisi arca Ganesha yang duduk di atas lapik berbentuk Yoni. Ganesha merupakan simbol dari dewa penghilang segala marabahaya.

Secara administratif, Candi Gebang terletak di desa Gebang, kelurahan Wedomartani, kecamatan Ngemplak, kabupaten Sleman, Yogyakarta, sedangkan secara astronomi candi ini terletak pada 110° 24', 53.62" BT dan 07° 45.01'' LS.

Penamaan candi yang ditemukan tahun 1936 ini didasarkan pada lokasi candi tersebut berada, yaitu di desa Gebang. Penamaan sebuah candi selain dari keberadaan lokasinya, juga bisa dinamai berdasar legenda yang dikenal masyarakat setempat, atau juga bisa berdasarkan pada penyebutan dari sebuah prasasti.(Vey-LJ/ Editor: EM-LJ Aspirasi)

Gambar Arca Nandiswara, sebelum kepalanya dicuri November 1989. Foto diambil pada 25 Januari 2012/ Vey.

Arca Nandiswara tanpa kepala Candi Gebang di Desa Gebang Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta. Foto diambil pada 25 Januari 2012/ Vey.

Arca Ganesha di sisi barat bangunan Candi Gebang di Desa Gebang Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta. Foto diambil pada 25 Januari 2012/ Vey.

 
Arca Ganesha, simbol dewa penghilang segala marabahaya yang terletak di Candi Gebang di Desa Gebang Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta. Foto diambil pada 25 Januari 2012/ Vey.


Candi Gebang di Desa Gebang Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman-Yogyakarta. Foto diambil pada 25 Januari 2012/ Vey.

free counters

Kamis, 09 Februari 2012

Fenomena Letusan Sekunder Merapi

Lajur Merapi-Yogyakarta (Kamis 09 Februari 2012)-Fenomena alam yang menimbulkan letusan sekunder akibat lahar hujan sepanjang alur Sungai Gendol Cangkringan-Sleman-Yogyakarta.

Erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 2010 yang lalu masih meninggalkan beberapa fenomena alam , masih terdapatnya mata air panas yang berada di Dusun Bronggang Kelurahan Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman – Yogyakarta dan batu-batu raksasa di Kepuharjo – Cangkringan.

Ada juga fenomena letusan sekunder yang terjadi di sepanjang alur Sungai Gendol, fenomena alam ini masih kerap terjadi ketika banjir lahar hujan atau sering di sebut banjir lahar dingin. Letusan sekunder ini dapat melontarkan material berupa abu, pasir, kerikil maupun batu yang mencapai ketinggian puluhan meter disertai dengan hujan abu tipis di kawasan yang dekat dengan terjadinya letusan.
Foto
Letusan sekunder sepanjang sungai Gendol Cangkringan, 2010 (Foto: RD-LJ GlobalFrame)
Foto
Letusan sekunder sepanjang sungai Gendol Cangkringan, 2010 (foto: RD-LJ GlobalFrame)
Foto
Letusan Sekunder sepanjang Sungai Gendol Cangkringan, 2010 (foto: RD-LJ Global Frame)
Foto
Bekas Letusan Sekunder Membentuk Kawah Kecil -Cangkringan, 2010 (foto: RD-LJ GlobalFrame)
Foto
Terbentuknya lubang-lubang Bekas Letusan Sekunder, Cangkringan 2010 (Foto: RD-LJ GlobalFrame)
Video Letusan Sekunder 2010
Menurut Bapak Subandriyo selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta pada wawancaranya dengan kompas.com mengatakan setelah terkena air hujan, material awan panas yang masih bersuhu ratusan derajat celcius itu membentuk tekanan uap yang cepat dan terjadilah letusan.

Meskipun demikian, beberapa warga maupun wisatawan mencoba melihat fenomena tersebut dengan jarak yang cukup dekat dengan letusan. Walaupun sampai saat ini belum ada korban akibat letusan sekunder tersebut tetapi letusan ini sangat berbahaya karena suhu material yang di keluarkan masih sangat panas selain itu bebatuan yang cukup besar pun bisa terlontar sampai puluhan meter dari sumber letusan.

Setelah letusan sekunder berakhir biasanya meninggalkan jejak berupa bentuk kawah maupun lubang lubang yang berdiameter sampai 40cm. (RD-LJ GlobalFrame/ editor: EM-Aspirasi Media)

free counters

Jumat, 27 Januari 2012

Suara Gemuruh di Gunung Merapi Membuat Warga Meningkatkan Kewaspadaan

Suara gemuruh yang terdengar sangat keras, menjadikan warga Dusun Petung Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten bergegas keluar rumah untuk memastikan dari mana asal suara gemuruh itu terjadi. Warga yang keluar dari rumah terlihat berkumpul dijalan, dan nampak semua warga melihat ke arah Gunung Merapi. Ternyata suara gemuruh itu berasal dari arah Gunung Merapi. Suara yang terdengar 2 kali itu kemungkinan suara tebing yang longsor terjadi pukul 22.45 juga 23.20 WIB dan sempat membuat warga panik, Hingga pukul 23.30 masih terlihat warga berkumpul di jalan, dan dengan ramainya warga saling membicarakan dan saling menceritakan kepanikanya mendengar suara yang terjadi 2 kali dari arah Gunung Merapi.
“suara yang pertama terdengar waktu pulang dari jagong bayi, sampai di rumah baru masuk sudah terdengar dan langsung keluar lagi ke halaman rumah serta langsung melihat ke arah Gunung Merapi, tapi tidak terlihat apa-apa. Suara gemuruh sudah berhenti, kembali masuk dan menuju kamar tidur. Belum semat terlelap dikagetkan kembali oleh suara gemuruh yang ke 2. Hingga bergegas keluar rumah lagi untuk melihat, terdengar warga ramai berada di sepanjang jalan menjadikan saya menyusul warga lain. Ternyata sudah banyak warga yag berada di jalan untuk melihat ke arah Gunung Merapi.” Pak.Wardi (45) warga Dusun Petung.
Melihat warga yang berada disepanjang jalan Dusun.Petung saling membicarakan suara yang terdengar dari arah Gunung Merapi itu. Dan juga ada yang saling berembug masalah Gunung Merapi, mengungsi serta bercerita tentang kejadian erupsi Gunung Merapi yang lalu. Ini menandakan bahwa warga saat ini lebih siap dan waspada untuk menghadapi ancaman Gunung Merapi.
Dalam berbagai kumpulan-kumpulan atau obrolan warga sehari-hari pun tak luput dari pembicaraan tentang Gunung Merapi. Ada yang bercerita tentang erupsi waktu dulu ada juga yang sudah berfikir bila besok atau kapan terjadi erupsi lagi sudah lebih siap dan sudah merencanakan (mitigasi).(Prm-LJ/editor: EM-LJ)

free counters

Selasa, 24 Januari 2012

Jembatan Alat Penghubung Masyarakat

Jembatan merupakan alat penghubung mayarakat yang terhalang oleh arus sungai, dengan adanya jembatan maka hubungan masyarakat dengan daerah lain bisa berjalan dengan baik. Begitu berartinya keberadaan jembatan bagi kehidupan masyarakat di sekitaran sungai. 

Jembatan gantung yang menghubungakan Dusun Suko Desa Sewukan Kecamatan Dukun dan Dusun Tlatar Desa Krogowanan Kecamatan Sawangan (BDY-LJ)

Jembatan gantung yang terletak di Desa Sewukan Kecamatan Dukun yang menghubungkan dengan Desa Tlatar Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Jembatan gantung yang baru selesai dibuat untuk mengganti jembatan yang pertama, dimana jembatan yang pertama mengalami longsor akibat bencana yang disebabkan oleh lahar dingin.

Menurut sumber yang ditemui, jembatan ini dibuat sekitar bulan Juli 2011 dan sempat terhenti dikarenakan di bawahnya sempat dibangun jembatan darurat yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Baru sekitar pertengahan bulan oktober jembatan gantung bisa dilanjutkan kembali.

Selain jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Suko dan Dusun Tlatar, diatas sungai Pabelan terdapat juga jembatan Cinta yang jarakanya sekitar + 500 m dari Jembatan Gantung. Jembatan Cinta yang diresmikan pembuatannya pada 11 Juni 2011. Dimana jembatan cinta ini untuk menggantikan jembatan yang pertama yang rubuh akibat lahar dingin. Jembatan Cinta sebagai alat penghubung antara Dusun Candi Pos Desa Sengi dan Dusun Tlatar Desa Krogowanan Kecamatan Sawangan. (Doc. FPRB Sengi 2011).

Pada hari Selasa 24 Januari 2011 jembatan Cinta di bongkar untuk dibuatkan jembatan yang permanen seperti Jembatan gantung yang menghubungakan Dusun Suko Desa Sewukan Kecamatan Dukun dan Dusun Tlatar Desa Krogowanan Kecamatan Sawangan.


Jembatan Cinta yang selesai pembongkarannya semenjak pagi hari pada hari Selasa 24 Januari 2012. (BDY-LJ)


“Jembatan Cinta sengaja dibongkar karena mau dibuatkan secara permanen” Tutur Wawan selaku koordinator dari Dusun Candi Pos Desa Sengi.


Bapak Purnomo, ST kasi pembangunann Desa Sengi serta warga masyarakat Desa Sengi ikut andil untuk melakukan gotong royong dalam membongkar Jembatan Cinta pada hari Selasa 24 Januari 2011 (BDY-LJ).

Gotong Rotong Masyarakat Desa Sengi untuk mengangkut benda-benda bekas Jembatan Cinta yang dibongkar. (BDY-LJ)

 “Jembatan Cinta dibuat dari swadaya masyarakat 4 dusun yaitu Dusun Candi Pos, Dusun Candi Tengah, Dusun Candi Duwur, Dusun Ngampel Desa Sengi, untuk membangun jembatan secara bergotong royon adapaun untuk bahan yang digunakan yaitu memakai glugu / batang pohon kelapa agar jembatan lebih kuat dan tidak seperti jembatan yang menggunakan bambu serta hanyut terbawa banjir lahar dingin. Sudah 4 jembatan darurat yang dibuat masyarakat Dusun Candi Pos dan Candi Tengah namun keempat jembatann itu hanyut terbawa lahar dingin. Jembatan Cinta sangat membantu masyarakat di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Dukun dan Kecamatan Sawangan sebagai penghubung jalur ekonomi dan pendidikan bagi anak-anak sekolah dari Kecamatan Dukun yang sekolah di daerah Sawangan, jembatan ini juga sebagai jalur evakuasi di Desa Sengi dan Desa Tlogolele.” Lanjut Wawan.
(BDY-LJ/editor: EM-LJ)

free counters

Minggu, 22 Januari 2012

LERENG TIMUR MERAPI: SAKSI KEHEBATAN PILOT TEMPUR INDONESIA


"Bangsa kita bukan bangsa yang GOMBAL, jika kita bisa menghargai, menghormati, menghayati, dan meneruskan spirit. Nasionalisme para pendiri dan para patriot yang telah menegakkan kedaulatan NKRI di mata dunia", kata R.Hendro RPU,S.Psi  Seorang pengamat sejarah AURI yang ditemui penulis di Museum Dirgantara, Janti Yogyakarta, hari Minggu 15 Januari 2012.

"Saya prihatin dengan generasi muda sekarang yang suka saling menyalahkan dan saling menjelek-jelekkan sesamanya, bahkan malu menjadi bangsa Indonesia", lanjut Hendro mengungkapkan keprihatinannya.

Sudah saatnya kita menggali kembali sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perjuanganya dalam mempertahankan Kemerdekaannya. Pasca 17 Agustus 1945, kedaulatan NKRI masih diusik oleh pihak Belanda yang tidak puas dengan keadaan ini. Ketidakpuasan penjajah Belanda terhadap Perjanjian Linggar Jati yang telah ditandatangani bersama dengan pemerintah RI pada tanggal 25 Maret 1947, diwujudkan dalam bentuk Agresi Militer beruntun, yaitu pada tanggal 21, 25, dan 27 Juli 1947. Dalam Agresi itu, pihak Belanda juga melakukan serangan udara terhadap lapangan-lapangan terbang di Jawa dengan tujuan melumpuhkan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, saat berlangsungnya Agresi militer Belanda 1947 tertutup kabut tebal, sehingga selamat dari serangan udara Belanda. Puluhan pesawat rusak peninggalan Jepang yang kemudian diperbaiki (dibandrek), dan menjadi modal awal untuk mendidik calon-calon penerbang militer Indonesia, terhindar dari kehancuran. Petinggi AURI saat itu tidak tinggal diam, kemudian Komodor Muda Udara Halim Perdanakoesoema (Perwira Operasi AURI) mendapat perintah dari KASAU KOMODOR UDARA Soerjadi Soerjadarma untuk menyusun rencana Operasi Udara Pertama, pukul 19.00 WIB tanggal 28 Juli 1947.
Gambar 1


  Tanggal 28 Juli 1947. Briefing oleh Halim Perdanakusuma
Gambar 2
 Tanggal 28 Juli 1947: Para Kadet Penerbang AURI angkatan I menyusun rencana penyerangan kepada pihak Belanda di Semarang dan Salatiga.
Gambar 3
 Tanggal 28 Juli 1947: Para Teknisi AURI menyiapkan 4 pesawat tempur untuk Serangan Udara 29 Juli 1947: terdiri dari dua buah Churen, sebuah Hayabusha dan sebuah Guntei.
Perintah Operasi disampaikan Halim Perdanakusuma kepada keempat Kadet penerbang Angkatan I AURI, Moeljono, Soeharnoko Harbani, Soetarjo Sigit, dan Bambang Saptoadji. Empat pesawat terbang disiapkan untuk melakukan Operasi Udara tersebut, terdiri dari dua buah Churen, sebuah Hayabusha dan sebuah Guntei. Namun sampai menjelang pemberangkatan pesawat Hayabusha yang akan dikemudikan kadet penerbang Bambang Saptoadji mengalami kerusakan sehingga tidak bisa ikut serta dalam Operasi. Bambang Saptoadji sangat kecewa dan meminta kepada tiga rekannya untuk digantikan tugasnya, namun tidak satupun diantara mereka yang mau digantikan, dengan semangat juang yang tinggi mereka ingin melakukan tugas bakti kepada Bangsa dan Negara
meskipun mengandung resiko.

Selasa dinihari 29 Juli 1947, pukul 03.45, tiga pesawat yang akan melakukan serangan udara lepas landas dari Maguwo. Kadet Penerbang Moeljono didampingi penembak udara Rachman menggunakan pesawat pembom Guntei, lepas landas yang pertama, dibelakangnya menyusul dua buah pesawat Churen, masing-masing dengan penerbang kadet Soetardjo Sigit dengan penembak udara Soetardjo, serta kadet penerbang Soeharnoko Harbani dengan penembak udara Kaput. Sesuai perintah, Kadet Moeljono mendapat tugas menyerang pelabuhan laut Semarang, sementara Soetardjo Sigit dan Soeharnoko Harbani yang bertindak sebagai wingman menyerang tangsi Belanda di Salatiga. Namun dalam penerbangan di kegelapan pagi hari di atas Maguwo, Kadet Soeharnoko Harbani kehilangan pesawat Soetardjo Sigit yang menjadi leadernya, Karena tidak ingin membuang waktu, Soeharnoko Harbani memutuskan untuk langsung terbang ke Salatiga melalui rute lereng timur Gunung Merapi,
dari ketinggian terbang pesawatnya, Soeharnoko Harbani melihat lampu-lampu kota Ambarawa, segera pesawat Churen diarahkan ke arah timur kota, Soeharnoko tahu bahwa di sana terdapat tangsi-tangsi Belanda. Serangan udara dimulai dengan dua bom 50 kilogram yang dijatuhkan di Ambarawa, setelah itu segera pesawat Churen diarahkan kembali ke Maguwo melalui rute berangkat yang merupakan jarak terpendek, hal itu dilakukan untuk menghindari pesawat-pesawat tempur Belanda yang dipastikan akan mengejarnya. Pesawat Churen Soeharnoko-Kaput mendarat paling awal di Maguwo, disusul pesawat Soetardjo dan Moeljono. 
Gambar 4
 Tanggal 29 Juli 1947, dini hari: Kadet Penerbang Moeljono didampingi penembak udara Rachman menggunakan pesawat pembom Guntei, lepas landas yang pertama dari MAGUWO Yogyakarta.
Gambar 5
 Selasa dinihari 29 Juli 1947, pukul 03.45, tiga pesawat yang akan melakukan serangan udara lepas landas dari Maguwo.
Gambar 6
 Serangan Udara pertama yang dilakukan dinihari tanggal 29 Juli 1947 oleh kadet penerbang AURI berhasil dengan baik serta menimbulkan dampak yang besar.
Serangan Udara pertama yang dilakukan dinihari tanggal 29 Juli 1947 oleh kadet penerbang AURI berhasil dengan baik serta menimbulkan dampak yang besar. Pertama: Dampak Psikologis: menimbulkan kekhawatiran pihak Belanda perihal kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia, sebab seminggu sebelum peristiwa tersebut, pesawat-pesawat AURI telah dihancurkan melalui agresi militer tanggal 25 dan 27 Juli 1947. Sebaliknya bagi pejuang Indonesia, peristiwa serangan udara AURI itu mampu menguatkan tekad dan semangat juang
serta memperkuat keyakinan terhadap kekuatan dan kemampuan bangsa Indonesia. Kedua: Dampak Politis: Memojokkan posisi Belanda dan mengurangi kepercayaan PBB terhadap provokasi yang dilakukan sebelumnya.
Sebaliknya, peristiwa itu semakin memperkuat posisi Indonesia dan sekaligus menunjukkan bahwa Negara Indonesia masih ada serta perjuangan rakyatnya untuk tetap MERDEKA masih berlanjut. HAl itu memacu dukungan politis Internasional yang semakin besar terhadap perjuangan Bangsa Indonesia.(VEY-LJ/ editor: M-LJ)

Sumber: Relief pada dinding MUSEUM PUSAT TNI AU DIRGANTARA MANDALA, MONUMEN PERJUANGAN TNI AU, NGOTO, BANTUL YOGYAKARTA.



free counters

Jumat, 06 Januari 2012

Informasi


Fenomena Letusan Sekunder Merapi
Menurut Bapak Subandriyo selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta pada wawancaranya dengan kompas.com mengatakan setelah terkena air hujan, material awan panas yang masih bersuhu ratusan derajat celcius itu membentuk tekanan uap yang cepat dan terjadilah letusan.Read More


  • Hujan Es Dan Angin Ribut Melanda Lereng Barat Merapi



  • Suara Gemuruh di Gunung Merapi Membuat Warga Meningkatkan Kewaspadaan



  • Sejarah Desa Sengi






  • Purna Tugas Sekretaris Desa Sumber 



  • Perlunya Berdialog Langsung Menggunakan Bahasa Asing

  • Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

     
    Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost