Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Mereka Para Ksatria Yang Memilih Mati Sebelum Terjadi Perang


Demi sebuah status quo para dewa...
Demi melestarikan Kejayaan kisah Bharatayudha...
Demi nilai-nilai leluhur yang kini makin menghablur...
yang dikikis Dekadensi dan Degradasi Moral generasi penerus.

Inilah Kisah sebelum Perang Baratayudha yang sungguh mengharukan. Kisah yang mengundang  banyak kontroversi. Kisah mengenai keterlibatan Kresna bersama para Dewa bertipu muslihat  untuk meniadakan Antasena, Antareja dan Wisanggeni agar mereka tidak ikut terjun dalam  perang Baratayudha. Bisa dibayangkan, andai Antareja ikut terlibat dan turun ke medan perang,  ribuan prajurit Kurawa bisa mati hanya dalam sekejap oleh kesaktiannya sebagai keturunan  bangsa ular. Atau Antasena, yang dipercaya dapat membalikkan dunia wayang hanya dengan kedua  telapak tangannya. Kisah pengorbanan yang jarang diungkap, terjadi sebelum Baratayudha. Sebuah kisah para ksatria yang memilih mati di jalan mereka sendiri demi sebuah keyakinan
untuk berbakti kepada keluarga besarnya.

Raden Werkudara alias Bima alias Bimasena merupakan satu-satunya dari kelima Pandawa lainnya  yang harus mengikhlaskan ajal dari ketiga putranya, ketiga anaknya gugur dan moksa dalam dan  menjelang Perang Bharatayuda. Antasena dan Antareja memilih moksa sebelum perang terjadi,  Gathotkaca gugur “tertabrak” senjata Cakra milik Kresna dalam perang Bharatayudha. Ya sebuah perang yang menggambarkan peperangan antara kebaikan melawan kejahatan.

Putra-putra Bima konon tidak memiliki kelemahan yang berarti, bahkan kesaktian  mereka mampu melebihi kesaktian Ayahnya sendiri. Sebagai figur seorang ayah tentu saja. Raden Werkudara sangat bangga dengan ketiga anaknya ini, dan kebanggan yang memuncak itu semua  sirna dalam sekejap berganti dengan duka mendalam ketika harus menghadapi takdir bahwa kesemua
anaknya yang dibanggakan harus gugur dalam menjalankan garis kehidupan dalam saat yang berdekatan.

Siapa itu Antasena? Siapa itu Antareja Siapa itu Wisanggeni? Ketiganya adalah para ksatria putera Pandawa. Yang pertama dan kedua adalah putera Bima alias Werkudoro, yang ketiga adalah putera Arjuna alias Janoko. Ada kesamaan pokok antara Antasena dan Wisanggeni, yaitu sama-sama blak-blakan, jujur, apa adanya, spontan, sekaligus berani melawan junjungan mereka
kalau mereka yakin bahwa junjungan mereka memang salah. Mereka berdua adalah kesatria yang selalu
siap bertempur membela nama besar keluarga Pandawa. Tetapi ketika mereka tahu bahwa keluarga mereka mulai menapaki jalan yang sesat, kedua kesatria ini tidak segan-segan berteriak dalam bahasa “ngoko",  yakni bahasa Jawa yang dipakai antara dua orang yang setara dalam suasana yang sama sekali tidak formal. Mereka menggunakan gaya bahasa “ngoko” karena memang tidak bisa menggunakan “krama inggil”, yakni bahasa Jawa yang harus digunakan oleh orang muda kepada orang tua atau bahasa orang yang berderajat lebih rendah kepada mereka yang berderajad lebih tinggi, atau antara dua orang yang sederajat tetapi dalam sikap saling menghormati. Antareja sedikit berbeda dengan dua saudaranya tersebut, Antareja masih menggunakan bahasa santun, selebihnya sifat lainnya sama dengan kedua saudaranya. Antasena, Antareja dan Wisanggeni adalah ketiga ksatria
yang amat sakti, sampai para dewa pun gentar.

Dalam wayang Jawa disebutkan bahwa para dewa mempunyai skenario bahwa keluarga Bharata (Pandawa dan Kurawa)  harus berperang sampai titik darah penghabisan untuk memperebutkan Astinapura. Ini skenario para dewa yang harus
terjadi. Karena itu apapun yang menghalangi skenario ini, harus disingkirkan. Menurut para dewa, Antasena, Antareja  dan Wisanggeni adalah tiga Ksatria Pandawa yang pasti akan menggagalkan Baratayuda atau perang keluarga Barata. Ketiga anak Pandawa ini dipastikan akan dalam sekejap menumpas Kurawa, sehingga yang akan terjadi adalah penumpasan kilat, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di kedua pihak. Karena itu, menurut para dewa, Antasena, Antareja dan Wisanggeni harus mati demi Bharatayuda. Demi tujuan para dewa itulah Antasena, Antareja dan Wisanggeni harus mati. Ketiganya gugur karena tipu daya para dewa. Antasena memilih Moksa, Antareja memilih mati menjilat tapak kakinya sendiri dan Wisanggeni gugur menelan liurnya sendiri.

Kembali ada kesamaan antara ketiganya, yakni mati secara kesatria ketika mempertahankan keyakinan mereka akan kebenaran.  Memang, sangat menyesakkan dada bagi orang hidup untuk berbicara mengenai pilihan cara harus mati. Tapi adalah sebuah  tindakan koruptif berbicara mengenai Antasena, Antareja dan Wisanggeni tanpa menerima cara ketiganya gugur.

Diantara anak Werkudoro, Antasena adalah yang tersakti dan terbijak, dia bisa terbang, bisa ambles ke bumi dan bisa hidup di darat dan lautan. Kulitnya bersisik dan kebal terhadap segala macam senjata Perang. Senjata ampuhnya terletak di tangannya, bila sudah digunakan untuk menyerang, tidak ada yang mampu menahan kesaktian tangannya, bahkan gunungpun rubuh bila kena tinju tangan Antasena. Hatinya sangat baik sebagai pembela Kebenaran, Lugas dan tegas. Seperti Antareja dan Wisanggeni, Antasena tidak diperkenankan ikut Perang Bharatayudha, karena kesaktiannya yang tidak ada bandingannya dari pihak Kurawa, sehingga bila ikut perang keadaan jadi tidak berimbang. Untuk hal inilah Sri Kresna diutus para dewa berperan sebagai negosiator sehingga Antasena mau melakukan "Bom Bunuh Diri" moksa sebelum perang Bharatayudha, demi keseimbangan semesta, kejayaan, dan nama baik para Dewa. Sri Kresna mengatakan jika Pandawa mau menang maka Antareja, Wisanggeni dan Antasena harus mau berkorban tidak ikut Bharatayudha, alias harus gugur duluan sebelum terjadi Perang di Padang Kurusetra. Peristiwa moksa Raden Antasena tergolong unik, tak terhitung ribuan kilo meter yang ditempuh Sri Kresna untuk mencari keberadaan Raden Antasena, ia bertanya kesana kesini, menemui seluruh penguasa penjuru bumi, dan tetap tak mampu Sri Kresna  menemuinya, tapi tanpa disangka Raden Antasena muncul di hadapan Sri Kresna menyerahkan diri. Bahkan kemunculannya yang menyamar sebagai orang lain tak disadari oleh Sri Kresna. Raden Antasena sudah mengetahui isi dari pemikiran dan apa yang hendak diutarakan Sri Kresna, di sinilah Sri Kresna benar-benar mengakui kehebatan Raden Antasena. Kresna sebenarnya amat sangat menyayangkan tentang keputusan dewata untuk meminta kedua Putra Werkudara ini untuk moksa. Karena baginya kebijaksanaan Raden Antasena jauh melebihi kebijaksanaan Semar, Narada, Hanoman…maupun dirinya sendiri. Pengetahuannya akan kehidupan dan segala maknanya amatlah dalam.

Sebelum Moksa, Raden Antasena berpesan kepada Sri Kresna: “Perang Bharatayuda hanyalah perang fisik seperti perang-perang besar lainnya, yang menjadi simbol perseteruan antara kebenaran dan kejahatan. Perang sesungguhnya antara Kebenaran dan Kejahatan telah berlangsung sejak lama, sebelum Kurawa  dan Pandawa dilahirkan. Kehadiran saya tak diperlukan dalam perang di Kurusetra itu. Saya tak sampai hati mencabut nyawa mereka yang tak mengerti tujuan dari peperangan tersebut. Tolong Sampaikan salam perpisahan saya untuk Ayahanda saya, Bima, dan sampaikan permohonan maaf saya yang tak bisa berbakti padanya karena tidak bisa terlibat dalam Perang Bharatayudha …”

Sri Kresna hanya menangis terharu mendengar statement pemuda tersebut, seorang anak muda putra Bima/ Werkudara yang
kebijaksanaan dan kesaktiannya membuat segan para Dewa.
 Bambang Wisanggeni putra Arjuna alias Janoko. Ketika Pandawa hendak bertempur melawan Korawa dalam Perang Bharatayuda, para dewa di kaendran Jonggring Saloka menuntut agar Wisanggeni dan Antasena harus tiada agar Pandawa menang di dalam peperangan itu. Pakem wayang ini memang agak unik dan sarat dengan ajaran yang amat luas pengertiannya.



Antasena putra bima Alias Werkudoro,  Raden Antasena adalah Putra Raden Werkudara melalui pernikahannya
dengan Dewi Urangayu…Putri penguasa Samudra…Batara Baruna…. akan tetapi sebagian lagi mengatakan bahwa Dewi Urangayu adalah putri dari Hyang Mintuna….Dewa ikan air tawar….Raden Antasena tinggal bersama  ibu dan kakeknya sebagai penguasa Kisiknarmada….

 Pertarungan Gathotkoco melawan Antasena (lukisan almarhum Basuki Abdullah)

(berbagai sumber)

Kiriman : VEY – LJ

free counters

Jumat, 02 Maret 2012

Tatap Muka


Jaringan social network sudah berakar di kalangan masyarakat, siapapun dapat menggunakannya, bahkan sebagian pengganti silaturahmi serta pertukaran informasi dari berbagai daerah.

Salah satu jaringan social network yang ramai di bicarakan dan digunakan salah satunya ialah facebook. Melalui jaringan social network facebook, kita bisa saling tukaran informasi baik antar komunitas ataupun secara individu. Dengan adanya jaringan social facebook ini, siapapun dapat memberitakan masalah pribadi seperti usaha-usaha kecil yang ia rintis.

Jaringan social network kalau digunakan secara baik, tentunya akan menjadi manfaat yang berguna, apalagi untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Tapi di sisi lain, terkadang ada juga orang yang selalu menyalahgunakan jaringan social network untuk dijadikan suatu kepentingan tersendiri, misalnya melakukan tindakan kejahatan dengan modus penipuan jualan online dan sejenisnya.

Banyak berbagai group di facebook yang menawarkan berbagai jenis untuk membangun solidaritas dan memperkuat hubungan tali silaturahmi, bahkan juga diadakannya pertemuan untuk saling mengenal di dunia nyata.

Seperti halnya di daerah Condongcatur tepatnya di Jl. Anggajaya I, Gg. Brojodento No 294 RT. 02 RW. 29 Gejayan, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta tepat pada hari Jum’at malam 02 Maret 2012 di Kantor Lestari Indonesia terjadi pertemuan secara nyata. Pertemuan ini awalnya kenal di dunia facebook.

Ements, Vey, Fanfan bertemu di Kantor Lestari Indonesia, Gejayan, Sleman, Yogyakarta, Jum’at 02 Maret 2012. Foto: Keliling Jogja. Mengikat solidaritas, bertukar pengalaman, dan membangun informasi dan pengetahuan.

Silaturahmi secara nyata tentunya lebih mengasyikan, selain bertatap muka secara langsung juga bisa tukaran informasi serta pemahaman dari masing-masing orang.(BDY-LJ/ Editor: EM-LJ Aspirasi)

free counters

Rabu, 22 Februari 2012

Aku dan Merapi


Lajur Merapi-Magelang-(Rabu 21 Februari 2012)-Kehidupan masyarakat lereng merapi kebanyakan bertani, karena kondisi tanah sangat subur, terutama masyarakat dusun Candi Tengah Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Kebanyakan masyarakat bercocok tanam sayuran, diantaranya cabe, kembang kol, tomat, dan lain-lain.  Salah satunya keluarga saya Ahmad Said Widodo sebagai petani sayuran. Sehari-hari  bekerja sebagai petani dengan kondisi saya seorang Difabel (penyandang cacat tuna daksa)  mencoba hidup dengan kekurangan yang  saya miliki.

Dengan kondisi seperti ini saya juga bekerja sampingan menjadi penjual pulsa keliling. Kegiatan saya sehari-hari tiap pagi ke sawah terus siangnya ke pasar sebagai penjual pulsa keliling dan sorenya mengajar  ngaji anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Quran).  Dengan kehidupanku yang serba kekurangan aku merasa bangga hidup di dusun Candi tengah yang tak jauh dari ancaman bencana gunung merapi.

Pada tanggal 24 Oktober 2010 saya dan warga mendapatkan info dari pak Kadus dan FPRB (Forum Penanggulangan Resiko Bencana) Sengi  bahwa status Merapi naik menjadi awas. Warga Dusun Candi Tengah dihimbau untuk berjaga-jaga dan menyiapkan semua barang-barang berharga. Selang dua hari tepatnya pada tanggal 26 Oktober 2010 terjadi erupsi yang mengakibatkan meninggalnya juru kunci Merapi (Mbah Marijan).

Pada dini hari malam Sabtu tanggal 1 November  2010 terjadi letusan lagi, semua masyarakat berhamburan berlari menyelamatkan diri, dengan kondisi seperti ini saya juga ikut lari tanpa membawa apapun. Saya dan keluarga berpisah dan bertemu keluarga di Dusun Karanglo Kecamatan  Sawangan yang jaraknya cukup aman dari letusan Merapi. Saya mengungsi disana selama 4 hari.

Pada tanggal 4 November titik aman dinaikan menjadi 20 km dari puncak, karena tempat pengunsian yang pertama jarak dari puncak Merapi 12 km, pada tanggal 5 November 2010 merapi meletus lagi, kondisi sangat kacau banyak pohon tumbang, mati lampu dan terdengar suara gemuruh yang sangat keras, sehingga penduduk sekitar juga ikut melarikan diri, saya dan keluaga juga ikut dievakuasi ke jarak yang lebih aman. Didaerah Mertoyudan Magelang. Selama satu bulan lebih berada dipengungsian. Kegiatan dipengusian saya juga mengajar anak untuk mengaji dan bermain di pengungsian, banyak relawan yang membantu  dalam bentuk sembako dan penanganan psikologis dipengungsian diantaranya dari UNIKA dan EO dari Semarang.

Setelah pulang dari pengunsian melihat kondisi rumah, sawah dan lingkungan sekitar Dusun Candi Tengah tertutup abu vulkanik, sehingga banyak rumah yang  rusak, dan tanaman mati. Dengan kondisi seperti ini saya dan keluarga membersihkan rumah yang terkena abu vulkanik. 

Kondisi persawahan di Desa Sengi.2010 (foto: Mazaox)
Setelah beberapa hari pulang dari pengunsian disusul dengan bencana lahar dingin yang mengakibatkan kerusakan irigasi, air bersih dan fasilitas publik. Banyak masyarakat yang merasa kerugian dari adanya bencana ini. Dengan kondisi ini saya harus tetap semangat untuk kehidupan kedepan.

Banyak bantuan yang masuk ke Dusun Candi Tengah,  diantaranya sembako, pipa air minum, pertanian, perternakan serta penanganan mental. Salah satu dari lembaga yang memberikan bantuan penanganan mental ialah Lestari indonesia dan Plan Indonesia  yang sangat membantu bagi masyarakat dalam progam dukungan psikososial untuk anak-anak, pemuda dan dewasa. Saya sendiri ikut terlibat pada progam tersebut sebagai LC (Local Cadres), untuk mebantu dan memulihkan trauma pada anak-anak.

Sosialisasi pengurangan resiko bencana untuk anak-anak di SD Sengi 2 dalam  Program  dukungan psikososial bersama Lestari Indonesia dan Plan Indonesia sebagai LC (Local Cadres) 2011. foto:Wancux

Saya sangat bangga hidup dilereng merapi karena tanahnya sangat subur, masyarakat sangat ramah tamah dan kearifan lokal masih dijaga.  Walaupun dusun kami masuk KRB III (kawasan rawan bencana tiga) yang setiap saat bisa mengancam kehidupan masyarakat Dusun Candi Tengah Desa Sengi. 

 Ahmad Said Widodo. Candi Tengah Desa Sengi. Kecamtan Dukun Kabupaten Magelang. (foto: Dila)

Saya mengucapkan terimakasih kepada FPRB SENGI yang telah membantu dalam progam pengurangan resiko bencana sehingga masyarakat Dusun Candi Tengah bisa mengerti dan memahami tentang kebencanaan. Saya merasa bersyukur kepada Alloh SWT walau pun dengan keadaan saya yag serba kekurangan ini, masyarakat bisa menerima. Saya juga dibutuhkan masyarakat untuk membantu pendidikan keagamaan bagi anak-anak lereng merapi khususnya di Desa Sengi.(Cerita Widodo kepada WCX-LJ Citizen Senin 20 Februari 2012/ Editor: EM-Aspirasi Citizen)

free counters

Senin, 20 Februari 2012

Pendakian Gunung Merapi


Lajur Merapi-Magelang-(Senin 20 Februai 2012)-Mendaki Gunung Merapi pada Hari Sabtu Malam 18 Februari 2012 bertujuan menelusuri terkait dengan isue Merapi yang beredar. Pendakian ini diikuti oleh Lajur Merapi, Jalin Merapi dan Kompag Merapi.

Team pendaki Gunung Merapi (Lajur Merapi, Jalin Merapi dan Kompag Merapi), Minggu 19 Februari 2012) Foto: Kompag Merapi

Berita yang beredar di beberapa media cetak dan elektronik khususnya mengenai  terjadinya gempa yang ada di Merapi. Gempa tektonik serta guguran material vulkanik di puncak Gunung Merapi hampir terjadi setiap hari dalam sepekan terakhir. Namun kondisi itu belum meningkatkan status gunung yang baru meletus beberapa bulan silam itu.

Mengenai informasi / berita yang beredar pada tanggal 18-2-12, team yang terbentuk melakukan pendakian ke Gunug Merapi bersama sahabat dari  Jalin Merapi dan Kompag Merapi. Sekitar pukul sembilan malam berangkat dari sekretariat Kompag Merapi bersama 8 orang (Wancux, Bayu Sapta Nugraha, Sopyan, Kologondang, Gombloh, Gus Pandan, Kento, Ki Danyang) menuju Selo Boyolali rumah saudara Mujiyanto, disana sudah ditunggu teman dari UPN (Lutfi dan Isa). Sambil menunggu waktu untuk berangkat kami semua saling memperkenalkan diri dan berbagi pengalaman tentang merapi.

Persiapan berangkat di rumah Mujianto dusun Kentongan Desa Samiran Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Sabtu 18 Februari 2012. Foto: Gombloh.

Berdoa bersama sebelum berangkat di New Selo, Boyolali. Sabtu 18 Februari 2012. Foto: Wancux

Istirahat di pos ke 2. Sabtu 18 Februari 2012. Foto: Kompag Merapi

Pukul 05:35 WIB sampai di pasar puncak merapi. Minggu 19 Februari 2012. Foto: Kompag Merapi)

Situasi dipuncak Merapi, kondisi penuh dengan asap sulfatara. Jika terlalu lama akan mengakibatkan sesak nafas dan rasa mual (Wancux). Minggu 19 Februari 2012, foto: Kompag Merapi.

 
Jalur pendakian menuju puncak merapi pasca erupsi 2010, dimana di jalur pendakian ini sudah pada longsor dan harus hati-hati jika mau lewat jalur ini karena banyak terdapat batu2 kecil yang mudah tergelincir saat terpijak. (Mujianto) foto: Kompag Merapi.

Pendaki yg salah jalur untuk menuju puncak.. sangat berbahaya dengan ketinggian dan banyak batu-batu curam. Minggu 19 Februari 2012. Foto Wancux

Puncak Merapi, terlihat kubah baru dan aliran mengarah ke sungai gendol. Minggu 19 Februari 2012. Foto: Kompag Merapi.

Puncak merapi terlihat dari pasar Bubrah, Minggu 19 Februari 2012. Foto Kompag Merapi

Hulu dari Sungai Woro. Mengarah ke Klaten. Terletak di Sisi Timur Merapi. Minggu 19 Februari 2012. Foto Kompag Merapi.

Batu ini mungkin karena lama telah terpendam dan batu ini sebagai dasar dari dinding merapi sebelah timur atau arah kepuncak merapi, 2 bulan yang lalu waktu aku naik batu ini belum tampak, setelah tergerus dan longsor baru nampak batu ini... (Mujianto Jalin Merapi. Minggu 19 Februari 2012 (Foto: Kompag Merapi)

Sudah terjadi perubahan di puncak ini, dimana pada bulan Januari kemarin di puncak ini terlihat batu yang seperti 2 orang sedang duduk bersantai, sekarang sudah tidak tampak lagi (sudah longsor) dan di puncak ini pula banyak retakan yang mudah longsor, waktu saya naik dinding puncak ini ada retakan yang lebarnya -+ 35 cm. Mujianto Jalin Merapi, Minggu 19 februari 2012, foto: Kompag Merapi.

Dinding merapi sisi timur. Mujianto Jalin Merapi, MInggu 19 Februari 2012, foto: Kompag Merapi

Inilah gambar-gambar hasil pendakian di Bulan Februari 2012, sampai jumpa di cerita pendakian yang akan datang. Semoga ini bisa menjadikan bahan informasi yang berguna.
Sahabat dari Kompag Merapi ( Gombloh, Gus Pandan, Kento, Ki Dantang,)  dan Jalin Merapi (Mujianto, Bank Jo, Isa). Minggu 19 Februari 2012, foto: Wancux

Data terakhir dari Pos Pemantauan Gunung Merapi Babadan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang-Jawa Tengah, gempa multiphase terjadi 37 kali atau meningkat 12 kali dibanding hari sebelumnya. Sedang gempa vulkanik dangkal 13 kali. Sehari sebelumnya hanya 9 kali sementara guguran terjadi 12 kali serta gempa tektonik lokal hingga 3 kali.

Menurut Ismail, petugas Pemantau Gunung Merapi Pos Babadan, meningkatnya aktivitas kegempaan masih dalam proses pembentukan kubah lava baru. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi erupsi, meski dalam skala kecil.

Meski demikian, aktivitas tersebut belum mempengaruhi status Merapi. Hingga kini Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Kegunung-Apian Yogyakarta masih memosisikan Gunung Merapi yang beberapa bulan silam erupsi hebat, berstatus normal.(WCX-LJ/ Editor : EM-LJ Aspirasi)


free counters

Senin, 13 Februari 2012

Kawasan Sungai Tlising dan Sungai Apu


Lajur Merapi-Magelang- Kawasan Sungai Tlising dan Sungai Apu (Senin 13 Februari 2012)

Menelusuri Bantaran Sungai Tlising dan Sungai Apu bersama FPRB Sengi-Magelang pada tanggal 02 November 2011 menjadi kenangan tersendiri dan akan selalu diingat.
Dampak akibat dari letusan gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober dan 5 November mengakibatkan kerugian baik secara fisik maupun non fisik. Buikan hanya itu disusul juga dengan bencana alam banjir lahar dingin yang mnemabah kewasawasan pada masyarakat di seklitaran sungai.
Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 2010 lebih besar jika dibandingkan dengan letusan gunung tersebut lebih dari 100 tahun lalu atau pada 1872.(sumber: compass.com) . Banyak kerusakan dan korban meninggal pada erupsi tahun 2010. Untuk wilayah Magelang banyak kerusakan yang terjadi akibat Erupsi Merapi tahun 2010 khususnya di Desa Sengi yang berjarak enam kilometer dari puncak merapi, kerusakan yang dialami masyarakat Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang ini diantaranya banyak area sawah dan tanaman pertanian yang mati terkena abu dan pasir merapi, kerusakan irigasi yangg terkena dasyatnya banjir lahar dingin, jembatan roboh sehingga menghambat jalur ekonomi dan pendidikan, dan rusaknya jaringan air bersih. Kondisi ekonomi yang semakin memprihatikan menyebabkan bencana sosial.

Kondisi yang memprihatinkan ini membuat Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Sengi, membantu untuk memulihkan kehidupan masyarakat baik dalam bidang pertanian, peternakan, dan air bersih (pipanisasi) dalam progam Recovery Erupsi Merapi 2010. Dengan sedikit bantuan itu mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarkat khususnya Desa Sengi. Tidak  hanya progam recovery tapi juga mensosialisasikan pengurangan resiko bencana lahar dingin.

Desa sengi merupakan desa yang terhimpit 2 sungai yang berhulu di gunung merapi, yaitu sungai pabelan (apu) dan sungai tlising.Pada tanggal 2 November 2011 FPRB Sengi mengadakan penelusuran bantaran sungai untuk mengetahui situasi dan kondisi yang ada dibantaran Sungai Tlising dan Sungai Apu. Diantaranya pemetaan kondisi rawan longsor, lokasi longsor, dan pendataan jenis tanaman,  pohon dan jenis binatang yang masih ada di Gunung Merapi.

Dengan keterbatasan alat, saya dan dua teman dari FPRB sengi yang bernama Kirun salah seorang warga Gowok Sabrang Desa Sengi dan Dodo Warga Gowok Pos Desa Sengi berangkat Dari Dusun Gowok Sabrang  Desa Sengi pukul tujuh pagi pada hari Rabu 2 November 2012. (WCX-LJ-Iseng Productions/ editor: EM-LJ Aspirasi Media)
Foto
Sesampainya di lokasi tidak lupa memarkirkan motor di Area sungai Tlising untuk menuju hutan lindung. Kurang lebih 1,5 km dari Dusun Gowok Sabrang Desa Sengi. Tempat ini juga sebagai terminal mobil untuk membawa hasil panen masyarakat. Foto WCX-LJ 2011
Foto
Tidak jauh dari lokasi parkir motor sekitar kurang lebih 50 meter terdapat longsoran di bantaran sungai Tlising, kurang lebih tinggi tebing sekitar 100 meter, lebar sekitar 75 meter, longsoran ini terjadi pada Banjir Lahar Dingin pada bulan Desember 2010. (Kirun FPRB Desa Sengi/ Foto WCX-LJ@2011).
Foto

 “Pada saat banjir lahar dingin terjadi longsor yang mengakibatkan munculnya genangan air (pening) di sungai Tlising pada bulan Januari 2011” tutur kirun salah satu warga Gowok Sabrang Sengi (foto: WCX-LJ-LJ).
Foto

Hulu dari sungai Tlising terdapat dua aliran yang berhulu di puncak merapi. Dilokasi ini  disebut tempuran antara wilayah babadan atas dan stabelan. (Kirun FPRB Desa Sengi/ foto: WCX-LJ)
Foto

Seorang nenek yang berasal dari Dusun Stabelan Desa Tlogolele Kec. Selo-Boyolali, sedang mencari rumput di tebing yang tingginya  kurang lebih 500 meter dibantaran Sungai Tlising. Seorang Nenek yang tidak mau disebut namanya bercerita setelah erupsi tahun 2010 banyak rumput yang mati terkena abu dan pasir merapi sehingga untuk mencari rumput harus berjalan 1,5 km dari rumah. Foto WCX-LJ
“nggeh ngeten niki kulo gaweane pendak dino golek suket ge makani wedus kaleh, mangkat seko
ngomah jam limo esuk ngko baline jam sewelas awan wis tekan ngomah. Lebar gunung merapi njeblug tandurane do mati keno awu, nak disek le ngaret yo cedak saiki le ngaret yo adoh, nak ra diretke weduse arep pakani op.. ?” (seperti ini kerjaanya saya, setiap hari cari rumput buat makan kambing dua, berangkat dari rumah jam lima pagi nanti pulangnya jam sebelas siang sampai rumah. Setelah gunung merapi erupsi tanaman pada mati terkena abu vulkanik. Kalau dulu sebelum erupsi cari rumput dekat , sekarang jadi jauh, kalau tidak cari rumput kambingnya mau makan apa?)
Foto

Satu keluarga (bapak, ibu, dan dua anak yang masih balita)  memulai mengolah lahan pertanian, Foto WCX-LJ

“Warga sekitar menyebut lokasi ini dengan nama daerah Tutupan yang artinya daerah perbatasan antara tanah sewan dan hutan lindung. Tanah sewan adalah tanah milik pemerintah yang disewakan untuk warga sebagai tanah pertanian, banyak warga yang mengelola tanah ini sebagai tempat untuk menanam tanaman sayuran, merumput dan juga ditanami pohon untuk dijadikan areng.. dulu tanah ini banyak pohon akasiah, rumput yang lebat, banyak ditanami sayuran, tapi setelah erupsi tahun 2010, banyak pohon mati, tanaman sayuran mati, dan rumput tertutup pasir, tanah ini yang dulu hijau sekarang menjadi  gundul” Tutus Paimin salah satu warga Stabelan- Boyolali.
Foto

Kondisi hutan lindung yang dulu lebat, pada tanggal 2 November 2011 banyak pohon-pohon yang rubuh terkena abu dan pasir erupsi merapi. Banyak spesies tanaman yang mati, terutama pohon-pohon besar. Hanya tinggal dahan dan ranting pohon yang sudah mengering. Foto WCX-LJ 2011
Foto
Warga sekitar memanfaatkan ranting-ranting pohon yang kering untuk dijadikan kayu bakar dan areng. Foto WCX-LJ 2011
Foto

Bekas alat untuk penerangan tradisional warga sekitar menyebut oncor. Warga sering menggunakan alat ini untuk menerangi jalan saat berangkat merumput dan mencari kayu bakar dihutan, alat ini terbuat dari potongan bambu dikasih sumbu dan di kasih minyak. Foto WCX-LJ 2011.
Foto
Longsoran batu2 besar dari dinding tebing diatas hutan lindung, longsoran ini mengarah ke sungai Tlising. Foto WCX-LJ 2011
Foto


Hulu sungai apu, nampak  gunung merapi yang tertutup kabut. Banyak material Merapi di aliran Sungai Apu dan tebing-tebing batu yang longsor. Foto WCX-LJ 2011.
Foto

Hulu sungai Tlising terlihat masih banyak material yang masih ada diatas, tanpa ada batu atau tebing penaha material. Foto WCX-LJ 2011
Foto

Salah satu bongkahan lava / lahar panas dari puncak merapi saat erupsi merapi tahun 2010. Kurang lebih 2 km dari puncak Merapi. Betapa dasyatnya Merapi bisa melontarkan batu besar dari mulut merapi. Foto WCX-LJ 2011.

Foto
Puncak merapi terlihat dari tanah sewan atas Dusun Stabelan Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Foto WCX-LJ 2011
Foto


Begitu indahnya merapi, begitu tangguhnya merapi..
Banyak cerita tentang merapi..
Aku bangga jadi anak merapi.
Salam merapi
“Kalising jiwo jalaran waspodo soko beboyo”


Wawan Herman Sulistyo (Wancuk) Dusun Candi Pos Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten  Magelang. Foto : Dodo FPRB Desa Sengi 2011

  Tarno (Kirun) Dusun Gowok Sabrang Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Foto WCX-LJ 2011

  Widodo (Dodo) Dusun Gowok Pos Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Foto WCX-LJ 2011
free counters

Kamis, 09 Februari 2012

Pahlawan Informasi Merapi yang Terabaikan Kondisinya Oleh Pemerintah

Lajur Merapi-Magelang-(Kamis 09 Februari 2012)
Perjuangan yang tidak mengenal lelah dan upah terus dilaksanakan untuk menjalankan tugas kemanusiaan, khususnya di area kawasan rawan bencana Lereng Merapi.
"Saya bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menginformasikan keadaan seputar Merapi melalui KOMPAG" kata bapak Bejo SP yang lebih dikenal dengan nama Mbah Mangku.


KOMPAG Merapi, adalah komunitas yang sangat berguna bagi masyarakat seputar Merapi khususnya sisi Barat (Magelang). Komunitas Radio ini telah berhasil menyelamatkan ribuan nyawa warga ketika terjadi krisis akibat erupsi gunung Merapi 2010 dan erupsi-erupsi sebelumnya.
Peringatan-peringatan dini yang up to date dan valid mengenai bahaya awan panas, lava pijar dan lahar dingin yang terjadi di lereng barat Merapi menjadi pedoman bagi warga untuk selalu waspada dan tahu saat yang tepat untuk mengungsi.

"Warga sini kebanyakan tidak mau mengungsi jika belum mendapat kepastian dari KOMPAG Merapi mengenai kondisi Merapi terkini"mbah Mangku menerangkan kepada Vey, Emen dan Presiden Wancux dari Lajur Merapi (Laskar Jurnalis Merapi) pada hari Kamis sore 02 Februari 2012 saat bertamu ke Sekretariat KFM Kompag Merapi di Utara Pasar Talun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kompag Merapi yang kini mempunyai anggota sekitar 100an orang ini aktif sejak 1991. Menurut Pak Bejo (50 tahun), komunitas Kompag Merapi berawal dari sekadar hobi untuk membantu petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPTTK) menginformasikan aktivitas Gunung Merapi kepada masyarakat. Anggota yang tergabung ini bervariasi berasal dari berbagai kalangan, ada pegawai negeri, swasta, dan juga pengangguran.

Mbah Mangku mengatakan, saat erupsi Merapi 2010 anggotanya hanya sekitar 73 orang, namun pascaerupsi jumlah anggota bertambah kurang lebih 30 orang yakni berasal dari daerah hilir sungai berhulu di Merapi yang menjadi korban lahar dingin.

"Pemerintah Kabupaten Magelang dan Pemerintah Kecamatan Dukun tidak mengakui dan mengabaikan keberadaan kami, tidak apa-apa, KOMPAG tetap jalan terus untuk kepentingan Masyarakat", mbah Mangku menyatakan tekadnya. Beliau adalah ketua KFM, KOMPAG Merapi (Komunikasi Peduli Aktifitas Gunung Merapi) yang mengudara pada frekuensi 148.280 Mhz.

Selama ini, para relawan Kompag Merapi menggunakan dana pribadi untuk operasional mereka, tidak ada bantuan yang signifikan dari pemerintah. "Kami bekerja untuk sosial kemanusiaan, fasilitas HT dan peralatan lain serta uang operasional semua menggunakan dana pribadi," kata beliau. "Bahkan beberapa anggota KOMPAG ada yang menjual HT nya ketika mereka sudah tidak memiliki dana operasional ketika berperan pada erupsi Merapi 2010".

Ironis memang, mengingat peran pentingnya informasi KOMPAG dalam menyelamatkan ribuan Masyarakat Magelang dari bahaya erupsi Gunung Merapi, Pemerintah Kabupaten Magelang malah terkesan cuek dengan komunitas tersebut. (VEY-LJ/ Editor: EM-Aspirasi Media)

free counters

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost