http://www.claimfans.com
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

Ruang Istirahat


Ilustrasi. Foto: BDY-LJ

Senja hampir datang, ketika aku berdiri bersandar pada tembok putih yang di sebelahnya ada jendela berjeruji besi. Di sini, di dalam ruang yang cukup luas tempat istirahat kami semua , para penghuni tempat menyebalkan ini.

Sudah beratus kali, mungkin beribu kali, (aku tak begitu ingat}. Selalu saja aku terpekur di depan jendela ini, pikiranku berkeliaran ke halaman depan yang dihiasi taman-taman kecil. Visi-visi berloncatan dalam otakku : masa lalu, masa kini, dan masa esok keluar masuk berganti-ganti mengisi mata dalam hitungan detik, kadang menit

Gambaran tentangmu berhenti sedikit lama di sini. Kadang-kadang sesuatu yang kuinginkan menggebu, menjadi seperti pedang terhunus yang tiba-tiba menyerang dan merajang-rajang tubuhku sampai tercacah-cacah. Seperti ketika aku menginginkanmu dengan perasaan sederhana, dan reaksimu ternyata berupa kenyataan-kenyataan rumit. sulit. dan berbelit-belit.
Astaga !! Tiba-tiba wajah mungilmu nongol di ambang jendela berjeruji mencibirku dan tersenyum mengejek .

Dan aku selalu saja terpancing menanyakan hal yang sama seperti kemarin,
“Apakah hanya karena menurutmu aku Murtad, lalu aku tak boleh mencintaimu. menikahimu. Menyetubuhimu, dan mengharap anak dari rahimmu ?”
Kamu tetap diam dan masih tersenyum menyimpan sesuatu yang ganjil . (Sungguh menyebalkan perempuan ini) .
“Mengapa?”, aku bertanya lagi dengan heran. Kamu diam cukup lama, sampai aku bosan menunggu jawabanmu. Kuputuskan bertanya lagi padamu dengan hati-hati,
“Apa sih maunya Tuhan-mu dengan membuat manusia dan dilengkapi-Nya dengan segenap perasaan cinta kasih sempurna ?

Lalu kemudian Dia membuat aturan-aturan agama yang membelenggu, membatasi, bahkan seringkali mematikan cinta suci sepasang manusia dan lalu mengubahnya menjadi dendam kesumat, putus asa, kegilaan, tindakan bunuh diri, dan kekonyolan yang menyedihkan lainnya”.
“Tapi siapa yang bisa disalahkan ?”.
“Masak sih kita mau menyalahkan Tuhan”.
“Siapa yang ….. ? ”
“ Lho, kamu kemana ,Tala ?”

Tiba-tiba wajah mungil manis tadi sudah lenyap dari depan jendela berjeruji, menghilang di balik tembok. Tapi entah kenapa hari ini aku sedang malas untuk mengejarnya . Biarlah.

Aku mulai berpikir lagi. Jangan-jangan Tuhan sama sekali nggak pernah membuat aturan-aturan itu. Jangan-jangan itu hanya ulah dan polah, perilaku kolektif dari Sekelompok Oknum nenek moyang kita yang super iseng. Mungkin, mereka bersekongkol, merencanakan, merumuskan, lalu bersiasat membuat norma-norma, aturan-aturan, hukum, ajaran-ajaran, dan silit mbirut juga e’ek kucing lainnya untuk mempersulit dan mengacaukan kehidupan spiritual anak cucunya di kemudian hari. ASU TenaN !!!.

Terkutuklah Sekelompok Oknum Nenek Moyang dengan segala jebakannya. Kenapa aku harus jadi salah satu korban nich, Nek !
Aku dituduh calon pacarku sebagai “si Murtad”, walaupun yang sebenarnya aku sangat mencintai Tuhan, dan juga mencintaimu Tala, walaupun kamu yang pertama kali memanggilku dengan nama “Escariot” . Lalu aku kau sebut murtad karena tak mau lagi mengikuti ibadah-ibadah yang kau ajarkan padaku. Maaf, ibadahku beda, ibadahku adalah dialog-dialog yang tersembunyi sunyi di hati . Ibadahku adalah persetubuhan dengan Tuhan tanpa aturan, tanpa paksaan, dan tanpa kau harus tahu.Tala. Sekali lagi Maaf.  Dan aku, yang diam-diam adalah pemuja Tuhan sungguh membenci Sekelompok Oknum Nenek Moyang kita yang licik, karena merekalah yang telah menyesatkan, melawan dan memperolok Tuhan lewat aturan-aturan mereka yang diwariskan pada kita. Hingga kita : Aku dan Kau, Tala, tak bisa bersatu. Kawin, beranak pinak, bercucu-cicit, ……,(karena kau anggap Tuhan kita beda). Memang. Sekelompok Oknum Nenek Moyang memang biadab, mengajarkan hal-hal membingungkan yang mengaburkan keberadaan Tuhan di hati kita.

Mungkin, sekarang mereka di akherat sedang bersenang-senang dan tertawa terbahak-bahak. berpesta pora. Melihat kekacauan akibat ulah mereka yang berhasil membodohi kita. HUH !!!!! Dasar Sekelompok Oknum Nenek Moyang !!! Kalian sungguh nakal dan ugal-ugalan mempermainkan kami, Nek Moy !. Lihatlah aku jadi disangka murtad oleh si calon pacarku !. Sialan.
Beberapa tahun yang lalu …., Waktu aku masih di SMP, atau mungkin di SMA , aku pernah membenci Ilmuwan yang menemukan "teori pembiasan cahaya", karena fantasiku tentang pelangi dan bidadari-bidadari yang turun dari langit untuk mandi di telaga, jadi rusak semua .

Memang, waktu aku masih kecil, bapak sering bercerita tentang sebuah dongeng. Konon, ketika hujan turun tidak deras, hanya gerimis rintik-rintik, dan matahari tetap bersinar terang, Itu adalah pertanda bahwa para bidadari di khayangan sedang gerah dan bersiap-siap untuk mandi. Kata bapak mereka cantik semua. Mereka turun dari langit meluncur lewat pelangi dan mencari telaga tersembunyi di muka bumi. Lalu mandi beramai-ramai. Telanjang bulat. Aku percaya dongeng itu. Sangat percaya . Aku juga sempat bercita-cita menangkap salah satu dari mereka, lalu kuperistri, seperti Joko Tarub yang pernah berhasil mengawini salah seorang… eh seekor… eh…sebu..(maaf, aku tak tahu mereka termasuk species apa, manusia, hewan atau jin, aku tak begitu tahu dan tak bisa mendefinisikannya). Yang pasti aku pingin kawin dengan salah satu dari mereka. Mungkin seperti halnya saat ini, ketika aku benar-benar pingin mengawinimu, Tala.

Kemudian setelah aku agak besar. Aku tak ingat pastinya kapan, SMP atau SMA, yang jelas aku sudah melewati mimpi basah pertamaku. Saat itu pelajaran IPA, Bu Nur yang cantik menerangkan tentang teori pembiasan cahaya .  Selama pelajaran aku hanya membisu, dan menangis diam-diam. Pilu .

Sejak hari itu, mimpiku untuk mengawini bidadari punah sudah, sedih. Benci. Tapi, untuk membenci Bu Nur aku tak berani, karena beliau terlalu cantik untuk dibenci. Akhirnya kuputuskan untuk membenci: ilmuwan-ilmuwan, teori-teori IPA, pengarang buku, penerbit, percetakan, langit, bumi, hujan, dll. dll., asalkan jangan Bu Nur.

Tapi sekarang, aku hanya mencintaimu , Tala. SANGAT, karena aku sungguh percaya kalau kau adalah salah satu bidadari yang tertinggal di wajah bumi ketika mandi , matamu bening indah tapi menyimpan duka juga kesepian yang dalam . Kau tersesat dan asing di sini. Aku ingin menjaga dan merawatmu, sampai-sampai ku takberani menyentuh kulitmu, takut menggoresnya . Juga takut kalau-kalau nanti kulitmu cacat dan kau berubah menjadi monster lalu jadi mengerikan seperti mutant. Aku akan selalu merawatmu karena kau adalah bidadari yang ingin kukawini . Karena kuyakin kau dikirim kesini hanya untuk menjadi istri : buatku.

TANG…TANG…TANG!!!

Tiba-tiba bel tanda makan malam berdentang lantang. Menyogok kuping. Mengagetkanku. Semua lamunanku tadi buyar dan membuatku panik. Dan aku tiba-tiba merasa sangat kehilanganmu, Tala. Kucari kau , di seluruh penjuru kamar. Di dalam lemari, di bawah meja, di sela-sela tiap selangkangan para penghuni ruangan, di antara tumpukan buku-buku usang, di antara debu-debu beterbangan yang menempel di sandal-sandal jepit tak bertuan. Nihil. Aku sedih , dan mulai menangis. Berlari kesana kemari. Aku jadi jengkel dan marah, dan kebencianku pada apapun dan siapapun naik ke ubun-ubun. Kujotos orang yang duduk diam melongo di depanku, lalu kutendang. Kuhajar. Kugigit hidungnya sampai berdarah-darah. Aku mengamuk hebat.
Seisi ruangan jadi kacau. Orang-orang menjerit-jerit. Ada yang takut. Tapi , ada juga yang tertawa-tawa dan bertepuk tangan gembira. Tiba-tiba dua orang petugas berpakaian putih-putih menjegalku. Aku meronta. Melawan, tapi suntikan keburu nancap di pantatku.
Aku berteriak-teriak.
“Tuhan, tolong aku !!!, please jangan budek”
“Tala, aku mencintaimu!!!”
“Bapaaaaaaaaaaaaaaaaak, Huaaaaaaaaaa, huaaaaaaa!!!!!!!!!”

Mataku mengabur, setengah sadar. Lalu tubuhku yang lemas diseret ke ruang isolasi. Gelap dan pengap.
Padahal sudah sering kujelaskan kepada mereka. Aku tidak gila. Hanya kadang-kadang saja, aku kepingin sedikit mengamuk dan memukuli ilmuwan-ilmuwan, nenek moyang. Membunuh aturan-aturan, norma-norma busuk, buku-buku, meja, kursi, piring dan nasi serta lauk pauk ransum makan malam kalian semua. Aku pengin menghajar roti-roti yang memberi kesempatan cacing-cacing menjadi gemuk di perut para oom-oom gendut dan kaya. Padahal aku cuma…………..sedikit…….hik.
“Tapi mereka kok tetap menyuntikku, ya?”
“Ya dech, Aku mengaku kalah, dan terpaksa menyerah”.

Dan inilah aku, hanya seorang lelaki yang pernah bercita-cita mengawini bidadari. Aku hanyalah si Murtad yang sangat mencintai Tuhan, juga mencintaimu utuh, Tala. Walaupun kau tetap memanggilku : Murtad dan Gila.
Kemudian sinar terang di mataku meredup, lalu perlahan-lahan padam.

Kiriman: Vey



free counters

Jumat, 03 Februari 2012

Ketenangan diri membuatnya mampu menghadapi gangguan


Malam yang hening disertai rintik hujan dan angin yang berhembus. Suasana malam yang begitu sunyi membuat semua orang tertidur pulas, sebagian lagi berusaha untuk menjaga keamanan di pos ronda.

Saat itu melintaslah seorang pemuda dengan menaiki kendaraan roda dua keluaran tahun 1970-an melewati sebuah kuburan yang tidak jauh dari rumah penduduk. Di tengah-tengah kuburan, mendadak kendaraan roda duanya mati seketika, si pemuda turun untuk mengecek bahan bakar, ternyata bahan bakar masih penuh. Ia terus berusaha untuk menghidupkan kembali kendaraannya, namun masih tetap tidak menyala.
“Huh.... kenapa ya kendaraanku tidak menyala, mogok di tengah kuburan, sendirian lagi.” Si pemuda berkata sendiri.

Selang beberapa lama, terdengarlah suara angin yang bergemuruh, suara angin itu terdengar lebih keras di area kuburan umum. Terdengar pula suara bisikan dan tawa manusia yang tidak terlihat. Suara itu makin jelas, namun si pemuda tetap tenang dan mencoba menghidupi kembali kendaraan roda duanya.

“Yeah, ada suara ketawa. Ngejek atau bagaimana nih, coba perlihatkan diri. Jangan sembunyi begitu.” Teriak si pemuda.

Suara itu terhenti sejenak, namun tidak lama angin berhembus kembali dengan kencangnya. Si pemuda tetap tenang, namun dalam hatinya masih ada seribu tanya yang ingin ia ketahui, ada apa di malam seperti ini. Apakah suara orang yang disertai angin hanya sekedar iseng dari orang ataukah dari suatu makhluk yang tidak jelas asal-usulnya?

Suara tawa dan angin mendadak sirna, setelah semua hening kembali. Si pemuda mencoba menghidupkan lagi kendaraan roda duanya. Kali ini kendaraan roda duanya bisa ia hidupkan, namun di dalam hati si pemuda tetap masih ada tanya. Hampir satu jam ia terjebak di tengah-tengah kuburan umum yang disertai rintik hujan dan hembusan angin.

Laju kendaraan yang ia tumpangi akhirnya sampailah ke tempat tujuannya, yaitu rumah kediaman sementara di suatu wilayah pedesaan. Pemuda itu langsung masuk, segera bergegas untuk mengambil air wudlu, ia tidak luput untuk selalu melaksanakan sembahyang sunat taubat dua rakaat.

Kali ini ia dikejutkan dengan hadirnya sesosok makhluk, tinggi, hitam legam berambut panjang. Makhluk itu berdiri di belakangnya. Mungkin semenjak tadi mengawasi si pemuda ketika melaksakan sembahyang sunat taubat. Si pemuda setelah selesai melaksanakan sembahyangnya, lantas menengok ke belakang dirinya. Dilihatlah makhluk itu. Ada rasa ngeri di dalam hatinya ketika melihat sosok makhluk entah Syetan, Jin atau Manusia. Yang jelas makhluk itu menatapnya dengan sorotan mata yang tajam.

Gemuruh angin kembali berhembus dengan kencang, kali ini disertai dengan wewangian yang begitu asing bagi si pemuda itu. Tidak lama terdengarlah suara dari makhluk itu. “Hai pemuda. Besok dirimu akan menemui diriku, akan datang seorang manusia yang akan mengantarkan diriku, dirimu tidak tahu siapa orang itu, begitu juga orang itu tidak kenal siapa dirimu” seru makhluk itu.

Si pemuda hanya terdiam mendengarkan suaranya, namun ia tetap tenang sembari berkata. “Kenapa engkau ada disini, lantas apa maksud dari perkataanmu” Tanya si pemuda.

Makhluk itu tidak menjawab, malah menatap dengan sorotan mata yang tajam. Tidak lama makhluk tersebut menghilang dari pandangan si pemuda. Si pemuda kaget lantas berupaya mencari makhluk tadi, tapi entah kemana makhluk itu pergi.
“Subhannallah.... apa barusan, Ya Allah semoga ini hanya untuk mengingatkanku atas segala Kuasa dan Keagungan-Mu yang Megah” Gumam hati si pemuda.

Keesokan harinya, si pemuda di kejutkan kembali. Kali ini bukan makhluk yang semalam mendatangi dirinya, tapi seorang manusia yang tidak ia kenali. Tanpa basa basi orang tersebut memberikan suatu bungkusan kecil kepada si pemuda. Si pemuda kaget dan berusaha untuk menolak, tapi orang tersebut memaksa sembari berkata “Aku Cuma ketitipan amanah seseorang, ini harus sampai kepada tanganmu” kata orang asing tersebut.


Si pemuda menerima benda yang terbungkus itu dengan sejuta tanya di dalam hatinya. Orang asing itu lantas pergi setelah benda yang dibawanya dapat di terima oleh si pemuda. Si pemuda lantas membuka bungkusan kecil itu, alangkah kagetnya ia. Bungkusan kecil itu bersisi boneka kecil mirip manusia, tapi ada perbedaan yang dimilikinya yakni tubuhnya diselimuti oleh rambut yang panjang, kuku di tangan dan di kaki memanjang serta ada gigi taring yang tajam.

Kaget serta ada rasa khawatir, maka ia pergilah ke seorang tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya. Kedatangan si pemuda disambut dengan baik, lantas tanpa panjang lebar, tokoh tersebut seakan sudah tahu maksud dan kedatangan si pemuda. Tokoh tersebut menjelaskan benda yang ada di tangan si pemuda, benda itu semua orang sering menyebutnya Jenglot (Bethara Karang).

“Lantas apa yang harus saya lakukan Ki (pangilan kepada seorang tokoh)?” Tanya si pemuda
“Simpan saja di rumah atau di tempat dimana dirimu tinggal!” Jawab tokoh tersebut
“Aku tidak mau menyimpannya terlalu lama, aku takut malah nanti menjadikan diriku lupa pada Allah SWT dan Rosul-Nya” jawab si pemuda
“Doakan dirinya agar tidak terjebak dalam jasad yang membeku, agar dirimu selalu terjaga dari godaan syetan dan Jin kafir yang menyesatkan” jawab seorang tokoh
“ Insya Allah Ki” Jawab si pemuda.

Lama perbincangan dengan tokoh tersebut, akhirnya si pemuda menitipkan benda tersebut pada tokoh masyarakat itu. Si Tokoh dengan kerelaan hati menerima titipan dan akan berupaya untuk menjaganya. Ia berpesan kepada si pemuda tersebut, seandainya ia ingin membawanya tinggal kembali datang ke rumah dirinya. Seandainya ada orang yang mau meyimpannya, tinggal diberikan, ataupun sebaliknya seandainya jasad yang membatu ini selalu di didoakan untuk pengampunannya, maka benda ini akan hilang dari hadapan si pemuda.

(Dikutip dari kisah pemuda yang mempunyai Jenglot, dan ia sendiri tidak mau disebutkan namanya)
(BDY-LJ/foto: Suria editor: EM-LJ)

free counters

Cinta membuatnya lupa, cinta pula membuatnya teringat


Ilustrasi (Foto: RZ-LJ)

Tertunduk dan diam di suatu malam, tepatnya di sebuah kamar yang terasa sepi, hening tanpa suara apapun. Yang terdengar hanya bisikan hati seorang pemuda yang sedang berkecamuk dalam kedukaan. Irisan luka yang menyayat hatinya, berbisik dan menjerit penuh penyesalan. Apakah gerangan yang menimpa pada pemuda ini?
“Ya Tuhan, mengapa ini mesti terjadi pada diriku, kuakui diriku memang tidak pantas untuknya, tapi kenapa dirinya selalu ada di dalam hati dan pikiranku. Apakah ini pertanda bahwa dirinya selalu memikirkan diriku, seperti aku yang memikirkan dirinya.” Gumam hati seorang pemuda yang tak lain sedang dilanda asmara, namun entah kenapa ada sesal dan luka.

Detik berganti menjadi menit, menit berganti menjadi jam, jam berganti menjadi hari. Itulah keseharian seorang pemuda yang hidupnya terasa hampa, yang jiwanya terasa mati, dipikiran dan di hatinya hanyalah penyesalan. Dalam benak teringat selalu kejadian yang tidak mungkin ia lupakan. Pikiran-pikirannya selalu diisi dengan emosi-emosi negatif, hingga menjadikan ia seorang yang ambigu, mudah tersinggung, dan mudah putus asa.

Kejadian yang tidak bisa ia lupakan saat-saat indah bersama dengan kekasih dambaan hatinya. Serta saat terakhir yang membuat dirinya putus asa hingga berani membinasakan diri dengan berbagai penyesalan serta rasa bersalah pada diri. Ia selalu merendahkan diri, lupa akan kemampuan yang ia miliki walaupun kemampuan itu hanya bersifat dasar. Kemampuan yang mampu membuat dirinya bangkit. Akankah si pemuda ini bangkit dari keterpurukan ataukan makin tenggelam dalam sisi hitam hidupnya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti menjadi tahun. Sudah sekian lama ia hidup dalam kegelisahan dan keputusasaan, hingga lupa siapa dirinya, hingga lupa pada apa yang seharusnya ia kerjakan. Sampai suatu ketika, ia merasa lelah dan bosan. Dalah isyarat hati, ia bergumam “Aku mesti meraih kembali mimpiku yang hilang, aku mesti bangkit dan meraihnya, mungkin ini semua merupakan hukuman pada pesona diri yang lupa pada pemilik semua jiwa”.

Pada suatu hari, ia berjalan menuju suatu tempat. Dimana di tempat itu ia diketemukan dengan masa lalunya, kekasih yang dulu pernah hilang, kini berada tepat di depan matanya. Tersentak dan kaget, ada rasa ragu dan rindu yang bergejolak di dalam hati.

Gadis itu menatap penuh keibaan, ada rasa ingin menghampiri namun terasa berat. Cuma isyarat hati yang berbicara ”Oh Tuhan, aku bertemu dengan kekasihku yang dulu memanjakanku, kini ia dalam kesepian dan kehancuran karena diriku yang meninggalkannya, Tuhan berilah terang pada jiwanya yang kalut, berilah ia pengharapan baru guna meraih mimpinya yang sempat pudar, bukakanlah mata hatinya” gumam hati seorang gadis yang tidak lain adalah kekasih si pemuda pada masa lalulnya. Tanpa terasa ia meneteskan airmata, tanda ketulusan dari doa yang terucap dari si gadis.

Si pemuda tersentak ketika dalam kilasan pandangnya melihat ada cahaya di mata si gadis, dimana cahaya itu adalah tetesan airmata untuknya. “Oh Tuhan, dia melihatku, dia menangisiku, dia masih peduli akan masa depanku”.

Kejadian ini membuat si pemuda kembali termenung, namun kini ia tersadar. “Tuhan, apakah ini petunjuk terang-Mu yang Kau berikan untukku, terima kasih Tuhan.” Si pemuda bersujud syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan berupa perasaan hatinya saat ini.

Si pemuda teringat detik-detik sebelum dirinya terpisah, dimana si gadis selalu berupaya memberikan motivasi dalam hidupnya, agar ia senantiasa untuk mencintai dirinya, keluarganya baru mencintai orang lain. Satu hal yang paling penting ialah mencintai Tuhan dan Utusan-Nya dan jangan melebih-lebihkan cinta-Nya yang agung pada makhluk ciptaan-Nya. Namun saat itu ia selalu diperbudak cinta kepada makhluk-Nya hingga ia merasa di khianati, merasa dijauhi dan merasa di tinggalkan.

Mungkinkan gadis itu menjauhi si pemuda yang malang ini hanya sekedar memberikan pelajaran penting dalam hidupnya? Si Pemuda hatinya mulai terang, kini ia mulai memahami kenapa si Gadis menjauh dan meninggalkan dirinya, ia lupa, pada seharusnya cinta sejati dicurahkan, ia lupa pada seharusnya apa yang mesti di kerjakan. ”Terima kasih cinta, berkatmu kini aku hidup lagi, berkatmu juga kini aku memahi dan mengerti akan arti cinta yang sesungguhnya.” Gumam di si pemuda.

Pemuda yang sempat dibutakan oleh cinta kepada makhluk-Nya yang berlebihan hingga dirinya menjadi sosok pemuda prustasi dan ambigu. Kini pemuda itu berseri kembali, kini pemuda itu mulai kembali untuk meng-aktualisasikan dirinya. Si pemuda penuh semangat mulai meraih kembali mimpinya yang sempat pudar. (oleh BDY-LJ)

Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu pada suatu hari kelak ia akan berbalik menjadi orang yang kaubenci. dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang kaucintai. (imam ali ra)



free counters

Senin, 30 Januari 2012

Bermain Egrang



Lonceng sekolah berbunyi pertanda pelajaran sekolah telah usai dan waktunya untuk kembali ke rumah masing-masing. Dengan riangnya anak-anak sekolah SD bergegas keluar kelas. Terkadang mereka saling mendorong dengan teman sebayanya ketika keluar kelas.

Rima merupakan anak di suatu Sekolah Dasar yang ada di Lereng Merapi dengan riangnya ia berlari menuju ke arah teman sebayanya yang kebetulan rumah mereka berdekatan dan tidak jauh dari tempat mereka sekolah. Ia bangga mempunyai teman-teman sebayanya yang selalu bersama walaupun kelas mereka berbeda.

“Yanti, nanti sore kita main egrang yuk!” sapa Rima kepada salah seorang teman sebayanya yang dipanggil Yanti.
Yanti: “Ayo, tapi nanti setelah aku selesai mengerjakan tugas dari sekolah”.
Rima: ”Kebetulan bagaimana kalau nanti kita belajar bersama saja, sekalian ajak-teman-teman yang lain untuk belajar bersama”.
Yanti:”Ayo, nanti aku kabari teman-teman yang lain, setelah makan siang nanti berkumpul di rumah Ida saja, supaya ibunya bisa membimbing kita.”
Rima:”OK.”

Siang hari cuaca yang tidak begitu panas, di tempat yang sudah disepakati oleh Yanti dan Rima, yaitu di rumahnya Ida. Anak-anak berkumpul untuk belajar bersama di rumah Ida yang kebetulan Ibunya adalah seorang guru SD di Kawasan Lereng Merapi serta dengan senangnya ikut membimbing anak-anak selepas pulang sekolah.


Sehabis belajar bersama anak-anak tidak bergegas pulang, mereka langsung bermain di halaman rumah yang luas sehingga begitu leluasa untuk bermain bagi anak-anak. Dengan senangnya mereka asyik bermain egrang. Egrang merupakan permainan tradisional yang dibuat dari bambu, dan tentunya permainan ini di zaman sekarang sulit untuk ditemui. Permainan tradisional ini hingga sekarang masih di mainkan anak-anak Khususnya di wilayah Lereng Merapi.

Rima dan teman-temannya begitu menikmati permainan tradisional yang bernama egrang. Senyum yang penuh riang, seakan hidup ini hanya untuk bermain. Begitulah dunia anak-anak yang menganggap bermain adalah sesuatu hal yang mengasyikan, sambil bercanda dengan sebayanya, seakan tidak ada beban di hati mereka. Yang ada justru senyum bahagia mereka untuk dunianya.

Anak perlu adanya pengawasan serta bimbingan dari orang dewasa apalagi orang-orang terdekatnya yang disebut dengan keluarga. Peranan keluarga sangat berarti bagi keberlangsungan hidup mereka. Karena keluargalah yang menentukan hidup anak-anak di masa depannya.(BDY-LJ/editor: EM-LJ)


free counters

Minggu, 08 Januari 2012

Diri Tak Pernah Berujung


Pagi Hampir Tiba
(Tai Kucing)

Andie sendirian dalam kamarnya yang sumpek, ia terlentang di atas kasur. Pikirannya teringat kembali pada kawan gilanya di Yogya.Vey. Mereka sudah lama sekali tak bertemu. Sambil merenung, tangan kanannya memegang rokok kretek murahan produk lokal daerahnya . Rokok itu tak dinyalakannya, tangan kirinya masih memegang sebendel kertas kiriman Vey yang datang siang tadi. Sebenarnya ia sedikit curiga mengira-ngira apa isi bendelan kertas tadi. “Propaganda gila apalagi ini,Vey ?”, tanya bathinnya. Perasaan malas karena badannya capek, juga tak selera membaca karena bendelan kertas itu lumayan tebal. Tapi, rasa penasaran lebih kuat menggumulinya. Malam makin larut namun matanya tak merasa ngantuk juga . “Ah, lebih baik kubaca saja tulisan orang sinting ini......” pikirnya, kemudian:


Tai kucing di atas kitab suci
Sindhu si Sesat, begitu orang-orang kampung Thol-kon menyebutnya. Seorang pemuda berbadan kurus berkulit hitam dan berambut panjang. Hidup sebatang kara dan tak jelas asal-usulnya. Sejak kecil ia di asuh Pak Lurah yang sekarang sudah almarhum. Kini Ia pengangguran , tapi dulu sempat juga menikmati pendidikan formal sampai kelas dua SMA sewaktu Pak Lurah masih hidup.

Sindhu terpaksa Drop Out dari sekolah karena tak mau menuruti keinginan Bu Kepsek untuk melayaninya di atas ranjang. Teman-temannya tak ada yang tahu kenapa ia keluar. Ia memilih untuk berhenti sekolah daripada harus berzinah dengan wanita setengah tua menor yang sudah mulai keriput dan lebih pantas dipanggil ibu oleh murid-muridnya .

Oh…kasihan, wanita tua malang yang gatal selangkangannya karena bermimpi mengais kembali masa mudanya.
Pemuda ini beranjak dewasa bersama pohon kelapa yang tumbuh di halaman belakang rumah Romo Albertus. Tempat di mana ia sering sendirian membaca, atau melamun dan berkhayal. Dia sama sekali tidak suka membaca buku-buku populer yang sedang nge-trend. Buku-buku yang dibacanya sedikit aneh dan menyimpang dari selera anak sebayanya. Itulah yang membuatnya nampak janggal di lingkungannya, misterius dan mencurigakan, karena mereka tak pernah tahu apa isi buku yang dibaca Sindhu. Yang mereka tahu judul buku itu “Apocalypse”, bersampul hitam dan tebal. Dari judulnya , pemuka spiritual kampung Tol_Khon langsung memvonis buku itu berbahaya.

Sindhu itu tidak waras dan harus diwaspadai karena sudah membacanya.
Sebenarnya kesesatan dan kegilaan Sindhu yang mencolok hanyalah tentang obsesinya untuk mencari persembunyian Tuhan . Melacak dan menyelidikinya merupakan sebuah ritual harian buatnya yang kemudian menjelma menjadi sebuah tata cara peribadatan baru dengan sendirinya . Sindhu adalah nabi sekaligus umat satu-satunya dari sebuah ajaran “Ketuhanan” baru yang terkonsep di otaknya sendiri.

Waktu kecil ia tak sempat menamatkan mengaji Juz-Ammanya, Karena Pak Ustadz Hamzah keburu meninggal sebelum ia Khatam dan tak ada Ustadz lain di desa Thol-kon setelah Hamzah. Lalu ia memilih untuk mengaji di Gereja Tua, tapi Sekolah Minggu di gereja juga tak bisa membimbing dan memuaskannya, tetap tak dapat menghentikan pencariannya, karena ia tak yakin Tuhan mewajibkannya melakukan semua itu. (alasan lainnya ialah malu karena Sindhu tak pandai bernyanyi).

Dalam pelacakannya, Sindhu pernah juga menyembah beberapa berhala, karena ia berpikir siapa tahu Tuhan bersembunyi di dalam salah satunya. Tapi, setelah membaca kisah tentang Ibrahim a.s. atau Abraham (begitu orang Nasrani menyebutnya), Ia berubah pikiran. Tak mungkin Tuhan berbuat sebodoh itu, bermain petak umpet dengan ciptaan-Nya sendiri. Seolah-olah mengemis kepada manusia dalam wujud batu berukir,dan patung-patung, menghiba meminta-minta untuk disembah. Betapa malasnya Dia kalau begitu.

Yach, walaupun Sindhu sendiri sebenarnya tahu kalau selera humor Tuhan itu sangat unik dan seringkali aneh untuk manusia. Buktinya Dia sering bermain-main dan bercanda ria dengan kenyataan, nasib, dan takdir manusia. Seperti nasib yang dialaminya kini , serba tak jelas.

But, It’s OK,Sindhu cukup senang dengan kondisinya sekarang, karena Ia dan Tuhan sudah merasa sangat akrab, dengan segala macam bentuk canda dan gurauan yang tak terbatas antara mereka berdua . dari jiwa ke jiwa. Rahasia dan Abadi dalam hati.

Namun, sebagai manusia biasa Sindhu juga sering merasa jengkel dan dongkol, jika keisengan dan ketengilanNya dirasa keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, kelakuan Tuhan di mana-mana memang sering begitu. Agak sedikit nakal, kekanakan, ganjil, kadang juga kejam. Kalau sudah begini , Sindhu kepingin banget menjewer kuping Tuhan,Tapi Ia sendiri tak tahu bagaimana dan di mana letak kupingNya. Yang pasti menurut kitab suci manapun disebutkan : Tuhan itu Maha Mendengar, berarti Dia punya kuping, tapi bentuk dan letak kuping Nya entah di mana. Mungkin kuping Nya lebar seperti gajah, atau sekedar bolongan kaya kuping ayam dan aves lainnya, mungkin kupingNya nangkring di jidat, atau malahan nempel di pantat, ah entahlah ? Pusing sendiri Sindhu memikirkannya.Sebodo amat, itu-kan urusan Tuhan untuk menaruhnya, suka-suka Dia aja.
Kebiasaan Sindhu lainnya ialah berkeliaran mengunjungi tempat-tempat yang disebut-sebut sebagai rumah Tuhan di seantero kampung Thol-kon : kuil-kuil, masjid-masjid, gereja-gereja, atau tempat suci lainnya. Ia melakukan semua ini untuk mendekati Tuhan yang amat dicintainya. Sindhu sama sekali tak peduli dengan norma-norma sosial dan agama yang berlaku dalam tatanan masyarakat kampung Thol-kon. Ia berpendapat sendiri: Agama adalah semacam persepsi kolektif dari manusia yang menyatakan bahwa tindakan-tindakan pembelengguan, pemasungan, perkosaan, penindasan terhadap alat kelamin manusia adalah hal yang paling benar dan paling bijaksana . Bahwasanya hal itu hanya menimbulkan perbuatan-perbuatan onani yang tak berkesudahan. Melakukan kesesatan-kesesatan tanpa batas yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi . Hancur sudah spiritualitas yang dikotak-kotakkan dalam dikotomi-dikotomi. Warisan turunan dari peradaban para kakek dan nenek moyang. Agama adalah sumber konflik utama paling mengerikan yang menghalalkan pembunuhan sadis dalam konteks pembelaan terhadap akidah -akidah . Alasan-alasan pembenaran dari kaum yang berkeimanan kerdil . Berperang sampai mati konyol hanya untuk membela Tuhan yang cuma ada satu dan mereka sembah bersama, hanya saja dengan cara yang berbeda. “Bodoh sekali mereka !”, begitulah pikir Sindhu.

Yang Sindhu tahu ia sudah bisa memeluk Tuhan dengan hangat, sebuah gelinjang yang bersinar, menerangi suatu tempat paling rahasia di hatinya. Dalam, sunyi, dan mesra.

Siang itu matahari terasa menggigit kulit, ketika sekumpulan orang dewasa menyalak-nyalak penuh amarah mendekati Sindhu. “Bunuh si Gembel kafir!!!”, seorang bapak-bapak gendut yang suka berjudi meneriakinya. (agar terlihat sedikit suci, mungkin).“Bakar saja ia yang suka melecehkan Tuhan !!”, yang lain menyahut berapi-api. Orang-orang kampung Thol-khon yang sudah lama tidak menyukai kelakuan aneh Sindhu ikut bergabung menyerbunya, sambil membawa benda apa saja yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk menghajarnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang “saleh” yang seringkali memamerkan kesalehan mereka, hanya sekedar untuk mendapatkan pujian-pujian munafik dari kalangan yang mulutnya selalu menghembuskan kalimat-kalimat wangi, tapi berhati tengik dan busuk, sebusuk kubangan babi yang digunakan untuk mandi sekaligus kawin oleh binatang yang dagingnya diharamkan oleh umat Islam itu. Mereka adalah para pemeluk teguh karbitan yang khawatir dan was-was karena status-quonya akan terusik oleh “kemerdekaan spiritual” yang dianut Sindhu. Satu-satunya tindakan preventif adalah: Sindhu harus dilenyapkan!!!

Padahal Tuhan, Sang Penguasa Semesta Raya ini tak pernah merasa terganggu olehnya. Dia hanya diam dan membebaskan manusia dengan segala bentuk pilihannya masing-masing. Dia tahu semua isi otak dan hati manusia, Dia juga sering menyusup ke dalam jiwa dari beberapa manusia dalam situasi yang tak lazim. Karena Sindhu bukan Ibrahim a.s. yang tak mempan dibakar, juga bukan David Copperfield yang bisa menghilang di segitiga Bermuda, sudah tentu ia mati dihajar oleh orang sekampung yang sedang kalap. Sebelum dibakar sampai hangus, tubuhnya sudah remuk babak belur tak karuan, tercabik-cabik seperti kambing dan sapi qurban di Hari Raya Idul Adha .
Sekarang seonggok tubuh hitam legam itu nampak membujur kaku di atas sisa-sisa tumpukan kayu yang ber-evolusi hampir sempurna menjadi arang. Seulas senyum tulus menghiasi wajahnya yang nampak damai dalam penderitaannya.

Sedamai wajah Kristus di tiang penyaliban. Setulus senyum Muhammad ketika disiksa kaum kafir Quraisy.
Malam harinya orang-orang kampung Tolkhon terkejut karena tempat-tempat ibadah dan kitab-kitab suci mereka diserbu ratusan kucing yang entah dari mana asalnya, mereka seolah lahir dari rahim Sang Bumi dan keluar lewat vagina Sang Waktu, tanpa mengalami proses ovulasi, tanpa harus dibuahi sperma-sperma liar para pejantan kucing.
Mereka muncul begitu saja. Yang terjadi terjadilah!. Hanya dalam sekejap. Kucing-kucing itu dengan seenaknya berak di atas tempat-tempat suci dan benda-benda keramat yang diagungkan seluruh penduduk Thol-kon. Tai kucing ada di mana-mana. Di atas kemunafikan iman, Penyembahan atas semua kepentingan keduniawian, berkedok ayat-ayat suci, hadits, mazmur, tabliqh, dsb dsb bla bla bla bla bala bla, dan ....lalu kemudian mencetak para ahli Ekonomi Manajemen Pemasaran, yang sukses di bidang jual-beli Tuhan.

Setelah puas meninggalkan tai-tainya, kawanan kucing itu lenyap begitu saja seperti saat munculnya. Seakan mereka adalah mesin pembuat tai yang dikirim Tuhan sebagai kado untuk merayakan kemenangan rakyat Thol-kon atas Sindhu. Seolah mereka adalah orang-orang suci dari masa silam yang datang membawa pesanTuhan dan meninggalkan sesuatu yang dalam di hati penduduk Thol-kon.

Sementara itu Sindhu memandang trenyuh di balik awan hitam bersama makhluk-makhluk berpakaian putih, bersayap, dan bersinar terang . Mereka selalu siap menjaga, memeluk, dan menentramkannya. Mereka adalah kucing-kucing tadi. “Sudahlah Sindhu, mari kami antar ke Elysium”.
Sindhu cuma menurut.................................................

“The End”
“Bangsat kamu Vey!!”, Andie bergumam sendiri. Sebuah sindiran yang sempurna buat Andie. Vey memang pintar menyenangkan hati teman.
Malam hampir pagi ketika Andie selesai membaca cerita tadi Ia segera berangkat tidur dan terlelelap dengan hati lega . Setengah jiwa Andie adalah Sindhu , dan mereka menyatu dalam sebuah mimpi yang berwarna abu-abu.

oleh: Vey
(dedicated to Andi Bowie & his fuckin’ “Great Adventures )
A.J.V. Maret, 2002

Followers

AutoBacklinkGratisFree Promotion LinkFree Smart Automatic BacklinkMalaysia Free Backlink Services MAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service Free Auto Backlink Free Automatic Backlink
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost